Waspadai Dampak Negatif Game Online

    Author: Mimin2 Genre:
    Rating


    DEPOK, KOMPAS.com - Syahril (12), Dika (11), dan Syamsul (12) berjanji bertemu di sebuah warung internet di Jalan Ridwan Rais, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat, Rabu (14/3/2012). Mereka ingin menghabiskan waktu dengan bermain game online di tempat itu. Ketiganya sama-sama menggandrungi aplikasi game Point Blank dan Lost Saga yang menyediakan beragam permainan.

    ”Asyik banget dapat berantem. Kami dapat memilih hero yang kami sukai,” tutur Syahril.

    Ketiganya hanya menghabiskan waktu tiga jam di tempat itu. Tiga jam adalah waktu sewa minimal untuk ukuran mereka. Pada akhir pekan, Syahril kuat bermain mulai Sabtu malam hingga Minggu malam.

    Soal uang sewa, Syahril sudah menganggarkannya dari uang saku harian. Kebetulan pengelola warung internet (warnet) menyediakan beragam paket menarik. Dengan memilih paket sewa, pengguna game online bisa menghemat uang sewa yang setiap jamnya dipatok Rp 3.000.

    Di warnet itu, ketiga belia ini tenggelam dengan permainannya. Sudah menjadi kebiasaan, mereka berteriak, mengumpat, dan saling mengejek dengan kata-kata kotor di tempat itu. Pengguna game lain juga melakukan hal serupa. ”Sudah biasa, semua juga begitu, Om. Dia ini yang paling sering ngomong jorok,” kata Syamsul sambil menunjuk Syahril.

    Sementara di salah satu bilik di warnet di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, kemarin, lima anak usia 9-11 tahun asyik menikmati sajian gambar dan video porno. ”Lihat, tuh,” kata Agung (11) menunjuk bagian tertentu dari gambar di layar monitor. Tak lama kemudian, dia dan teman-temannya tertawa keras.

    Anak-anak itu tak merasa risi meski pelanggan warnet di kanan-kirinya dengan mudah melongok ke bilik mereka yang hanya dibatasi dinding kayu tipis. Dinding kayu itu pun cuma sebatas dada orang dewasa.

    Menurut Widi, penjaga warnet, anak-anak itu memang kadang membuka situs porno. Namun, mereka juga sering browsing untuk mencari bahan-bahan pekerjaan rumah yang diminta dikumpulkan di internet oleh gurunya. Tak jarang mereka juga main di lantai dua warnet tersebut, yang khusus menyediakan game online.

    ”Kalau sudah terlalu lama dan mengganggu pelanggan lain atau komentar jorok, baru saya tegur,” kata Widi.

    Sesuatu yang salah

    Di balik derai tawa anak-anak usia SD itu ada sesuatu yang terjadi. Mereka mulai meninggalkan permainan di luar ruang. Sebenarnya Syahril, Dika, dan Syamsul sama-sama gemar bermain sepak bola.

    Namun, sejak mengenal game online di kelas IV SD, mereka lupa bermain bola. Pada akhir pekan, bisa 24 jam dihabiskan untuk bermain game. Merokok pun menjadi kebiasaan.

    Pian (28), pengelola Istana Net, mengatakan, konsumen terbesarnya adalah penggemar game online, terutama kalangan pelajar dan mahasiswa. Pelajar lebih banyak memanfaatkan waktu setelah pukul 12.00, setelah pulang sekolah. Cuma segelintir saja yang tidak menggunakannya untuk game online.

    Ahli digital forensik Ruby Alamsyah kembali mengingatkan dampak negatif game online bagi yang tidak siap menerimanya. Apalagi, jenis game yang populer sekarang ini menyediakan permainan keras dan kadang dibumbui seks. Mereka mengenal kekerasan, berperan sebagai pelakunya. Jika tak dicegah, mereka berpeluang melakukannya di dunia nyata. (Andy Riza Hidayat/Neli Triana)

    Leave a Reply

    Blogger templates

    Blogger news

    Blogroll